Kusta : Penyakit Infeksi yang Terabaikan

Brazil, India dan Indonesia merupakan tiga negara yang melaporkan lebih dari 10.000 penderita kusta baru setiap tahunnya dan 81% dari jumlah kasus kusta secara global berasal dari ketiga negara ini

Global Leprosy Strategy 2016 (World Health Organization)

Apa itu kusta?

Kusta atau lepra (Morbus Hansen) adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Umumnya infeksi ini menyerang kulit dan saraf tepi, menyebabkan kerusakan saraf, deformitas atau kelainan struktur anggota gerak, kecacatan dan kerusakan mata.

Bagaimana penularannya?

Kuman Mycobacterium leprae pertama kali ditemukan oleh G.H Armauer Hansen pada tahun 1873. Masa pembelahan kuman kusta sangat lama 2-3 minggu, dan bakteri ini dapat bertahan diluar tubuh manusia selama 9 hari. Kuman kusta juga memiliki masa inkubasi yang lama, rata-rata 2-5 tahun, tetapi bisa lebih lama dari 5 tahun.

Penularan dapat terjadi melalui saluran nafas dan kontak langsung dengan pasien, kontak kulit yang secara terus menerus dan lama. Sekitar 95% orang yang terpapar dengan bakteri penyebab kusta (Mycobacterium leprae) tidak jatuh sakit karena sistem kekebalan tubuh (imunitas) dapat mengendalikan infeksi sehingga tidak berkembang menjadi sakit. Seseorang yang telah minum obat tidak lagi menjadi sumber penularan.

Indonesia belum bisa dikatakan bebas kusta walaupun berhasil mencapai eliminasi kusta pada tahun 2000. Masih ada lebih dari 10.000 kasus baru setiap tahunnya. Tahun 2017, 15.920 pasien baru kusta di Indonesia.

Seperti apa tanda dan gejala kusta?

Penyakit kusta ditandai dengan adanya kelainan kulit seperti bercak dengan warna yang lebih terang dari kulit sekitarnya (lesi hipopigmentasi) atau bercak kemerahan (eritema) yang mati rasa. Pasien kusta juga dapat mengalami penebalan saraf tepi yang disertai dengan peradangan sehingga terjadi gangguan fungsi saraf.

Lesi kulit pada penderita kusta

Tanda-tanda lainnya pada fase lanjut adalah bengkak dan penebalan pada wajah dan cuping telinga, kulit tidak berkeringat, kering seperti bersisik, alis mata tidak berambut (madarosis), nyeri pada saraf, kelemahan dan deformitas anggota gerak, luka yang sulit sembuh dan kelemahan pada kelopak mata.

Akibat komplikasi yang menyebabkan kecacatan, sering terjadi stigma dan diskriminasi pada pasien. Hal ini menyebabkan banyak penderita kusta yang mengalami penolakan, terisolasi, depresi dan kehilangan mata pencaharian.

Apakah kusta dapat diobati?

Pengobatan merupakan salah satu cara efektif yang dapat memutus rantai penularan penyakit kusta. Selain itu, pengobatan kusta bermanfaat untuk mencegah terjadinya kecacatan atau mencegah kecacatan yang lebih lanjut.

Kusta diobati dengan Multi Drug therapy (MDT), yaitu pengobatan dengan kombinasi dua atau lebih obat anti kusta seperti rifampisin, dapson dan clofazimin. Jenis kombinasi dan dosis obat ditentukan berdasarkan kategori penyakitnya, usia, dan jenis kelamin. Masa pengobatan dapat berlangsung selama 6-18 bulan tergantung kategori penyakitnya.

Karena pengobatan membutuhkan waktu yang lama, sehingga dapat menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk tetap berkonsultasi dengan petugas kesehatan selama dan setelah masa pengobatan. Petugas kesehatan juga akan melakukan pemeriksaan kepada orang-orang yang berkontak dengan pasien untuk melakukan deteksi dini penularan kusta.

Selain pengobatan, hal penting lainnya yang harus dilakukan adalah melakukan perawatan diri. Perawatan diri pada mata, tangan dan kaki dilakukan seumur hidup untuk mencegah terjadinya kecacatan.

HAPUSKAN STIGMA DAN DISKRIMINASI TERHADAP KUSTA

Penyakit kusta adalah penyakit yang tidak hanya menyebabkan masalah kesehatan. Juga menyebabkan masalah sosial dan ekonomi pada penderitanya karena masih ada stigma di keluarga dan masyarakat. Dukungan keluarga dan masyarakat mempunyai peranan penting untuk memastikan pasien menjalani pengobatan sampai tuntas sehingga mata rantai penularan kusta ini pun dapat diputus.

Disclaimer : Informasi yang tersedia dalam blog ini adalah dalam rangka untuk menambah wawasan kesehatan, tidak untuk menggantikan nasehat, diagnosis atau pengobatan medis. Silahkan menghubungi fasilitas kesehatan profesional terdekat apabila anda mengalami masalah kesehatan.

About author

Author
dr. Candora