Apakah Vaksinasi COVID-19 Penting??

Pandemi COVID-19 belum berakhir sejak dideklarasikan WHO pada 11 Maret 2020 lalu. Data WHO per 12 Januari 2020, virus SARS-COV 2 telah menginfeksi 89 juta penduduk dunia dan menyebabkan 1.9 Juta kematian. Pandemi ini tidak hanya menjadi bencana kesehatan masyarakat, juga berdampak besar pada perekonomian nasional, sosial, pariwisata serta mengganggu proses pendidikan bagi generasi muda Indonesia.

Ribuan kasus terkonfirmasi COVID-19 terus bertambah setiap hari, artinya penularan penyakit masih terus berlangsung dan tingkat kerentanan masyarakat pun semakin tinggi. Apabila situasi ini terus berlanjut, pusat-pusat layanan kesehatan seperti rumah sakit bisa kolaps karena kelebihan kapasitas. Pandemi berkepanjangan juga menimbulkan pandemic fatigue di masyarakat, sehingga kesadaran untuk menerapkan protokol kesehatan menurun.

Apabila pemerintah Indonesia dan seluruh lapisan masyarakat tidak melakukan intervensi kesehatan yang memadai, Kementerian Kesehatan memperkirakan akan ada 2.5 juta kasus COVID-19 yang memerlukan perawatan rumah sakit dengan 250.000 kematian di Indonesia. Oleh karena itu, selain penerapan protokol kesehatan yang ketat, Indonesia memerlukan intervensi lain untuk mempercepat penurunan tingkat penularan virus di masyarakat sehingga pandemi ini bisa berakhir.

Bagaimana Kekebalan Alamiah Kita Terbentuk?

Physical barrier seperti kulit, mukus dan silia merupakan pertahanan pertama yang akan menghalangi masuknya kuman ke dalam tubuh. Apabila kuman seperti bakteri atau virus berhasil melewati barrier ini, kemudian menginfeksi tubuh, sistem imun atau kekebalan akan diaktifkan untuk melakukan perlawanan.

Setiap kuman memiliki bentuk dan struktur yang berbeda-beda, dan setiap sub-bagian atau sub-unit dari struktur ini dapat memicu reaksi imun yang sangat kompleks. Sub-bagian yang memicu reaksi imun ini selanjutnya kita sebut sebagai antigen. Tubuh kita memiliki sistem imun bawaan (innate immunity) untuk melawan setiap kuman atau antigen yang masuk. Ketika suatu antigen menginfeksi tubuh manusia, sistem imun bawaan (innate immunity) ini lah yang melakukan perlawanan sampai terbentuk antibodi spesifik yang dapat menghancurkan antigen tersebut.

Pembentukan antibodi bisa membutuhkan waktu berhari-hari. Misalnya COVID-19, antibodi terbentuk dalam 1-2 minggu setelah infeksi. Sekali tubuh sudah mengenali satu antigen, sistem imun akan bekerja untuk menghasilkan antibodi spesifik untuk menghancurkan antigen tersebut, kemudian membentuk sel memori yang siap menghasilkan antibodi lebih cepat bila terjadi infeksi lagi di kemudian hari.

Apa sih Vaksin COVID-19 itu?

Sebelum membahas vaksin dan pentingnya vaksinasi COVID-19, sebaiknya kita mengetahui morfologi virus penyebab penyakit COVID-19, SARS-COV 2. Untuk mengetahui struktur virus secara jelas, kita dapat melihat gambar dibawah ini ya.

(Gambar dikutip dari : Kumar S., Nyodu R., Maurya V.K., Saxena S.K. (2020) Morphology, Genome Organization, Replication, and Pathogenesis of Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). In: Saxena S. (eds) Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Medical Virology: From Pathogenesis to Disease Control. Springer, Singapore. https://doi.org/10.1007/978-981-15-4814-7_3)

Struktur virus SARS-COV 2 terdiri dari beberapa komponen, diantaranya sub-unit protein S atau Spike Glycoprotein yang ada di permukaan virus. Sub-unit protein S ini lah yang berperan dalam penempelan virus dengan sel tubuh kita. Kemudian komponen yang lainnya ada Membrane Glycoprotein (M), Envelope (E), dan materi genetik RNA. Seluruh komponen ini merupakan antigen-antigen yang dapat memicu reaksi imun.

Nah, Vaksin COVID-19 itu adalah substans atau zat yang mengandung virus SARS-COV 2, baik itu virus yang utuh atau sub-unit virus (antigen), yang dapat memicu reaksi imun pada seseorang yang sehat, vaksin hanya diberikan pada orang sehat. Vaksin ini akan melatih sistem imun kita agar siap memberikan perlawanan apabila suatu waktu terinfeksi COVID-19. Apabila menggunakan virus yang utuh pastinya, para ahli terlebih dulu melakukan inaktivasi terhadap virus sehingga tidak akan menyebabkan penyakit pada penerima vaksin, inaktivasi dapat dilakukan dengan pemanasan ataupun kimiawi. Para ahli memastikan virus atau antigen tersebut, aman dan cukup untuk menimbulkan reaksi imun yang menghasilkan antibodi tanpa menyebabkan penyakit pada penerima vaksin. Tentunya semua tahapan pembuatan vaksin pasti melalui proses ilmiah yang sangat teliti.

World Health Organization rutin melakukan update daftar vaksin yang sedang dalam tahap pengembangan. Per 12 Januari 2021, ada 236 kandidat vaksin COVID-19 yang sedang diteliti di berbagai negara, 63 diantaranya sudah masuk dalam tahap uji klinis. Setiap vaksin ini memiliki platform yang berbeda-beda. Misalnya vaksin buatan Sinovac, China, yang sudah masuk ke Indonesia, merupakan vaksin whole inactivated virus, artinya vaksin ini mengandung virus utuh yang diinaktivasi. Beberapa vaksin lain yang masuk dalam rencana pengadaan pemerintah Indonesia diantaranya vaksin buatan Novavax, vaksin ini mengandung sub-unit protein S dari virus SARS-COV 2. Kemudian produksi AstraZeneca, merupakan vaksin yang menggunakan virus lain sebagai vektor atau kendaraan pembawa antigen SARS-COV 2. Serta vaksin berbasis RNA yang diproduksi oleh Pfizer. Kelebihan dan kelemahan masing-masing vaksin tersebut akan kita bahas dalam artikel yang berbeda.

Mengapa Vaksinasi COVID-19 Penting?

Pemberian vaksin COVID-19 bertujuan melatih sistem imun untuk mengenali antigen atau virus penyebab penyakit tanpa harus jatuh sakit. Vaksinasi memicu sistem imun membentuk sel memori penghasil antibodi, sehingga bila individu tersebut terinfeksi, tubuhnya telah memiliki kekebalan yang siap melakukan perlawanan terhadap virus. Apabila setiap individu di suatu komunitas sudah kebal maka wabah pun akan berakhir.

Namun, tidak semua individu bisa mendapat vaksin. Hal ini disebabkan berbagai faktor, misalnya seseorang dengan riwayat alergi yang mengancam nyawa, faktor usia, menderita penyakit autoimun, atau penyakit lainnya. Mereka ini akan tetap rentan terhadap COVID-19. Tetapi mereka bisa terlindungi apabila tinggal diantara masyarakat yang sudah mendapat vaksinasi. Semakin banyak individu yang mendapat vaksin, virus pun semakin sulit bersirkulasi ditengah masyarakat. Hal ini lah yang disebut sebagai kekebalan komunitas atau herd immunity, tentunya jumlah individu yang kebal harus jauh lebih besar dari yang rentan. Vaksinasi merupakan cara yang aman dan efisien untuk mencapai herd immunity, akan sangat berbahaya dan mahal apabila pencapaian herd immunity hanya bergantung pada kekebalan alamiah yang didapatkan masing-masing individu dari infeksi primer.

Individu-individu yang mendapat vaksin membentuk kekebalan komunitas untuk melindungi orang-orang yang tetap rentan karena tidak dapat divaksin.

Memang pepatah lama mengatakan kekebalan yang didapatkan secara alamiah pasca terinfeksi kuman sepertinya lebih baik dari vaksinasi. Namun hal ini tidak berlaku mutlak seiring pesatnya perkembangan teknologi pembuatan vaksin. Contohnya adalah vaksin HPV (Human Papilomavirus), vaksin HPV dapat memicu imunitas yang jauh lebih baik dibanding kekebalan yang dihasilkan dari infeksi primer.

Demikian juga dengan vaksin COVID-19, para peneliti menemukan titer antibodi penerima vaksin konsisten tinggi, sementara pada penderita COVID-19 sangat bervariasi bergantung pada respon imun individu. Hal ini tergambar dari beragamnya tingkat keparahan penderita COVID-19 dari yang ringan, sedang, berat atau mengancam nyawa. Respon imun dalam 14 hari pertama sejak muncul gejala menentukan tingkat keparahan, semakin lambat antibodi dihasilkan resiko kematian juga semakin tinggi. Oleh karena itu, penting sekali tubuh kita mempunyai kekebalan pra-infeksi. Kekebalan pra-infeksi hanya bisa didapat melalui vaksinasi. Kemudian, adanya kasus-kasus re-infeksi menunjukkan antibodi yang dihasilkan secara alamiah dapat berkurang seiring waktu.

Mengapa hal ini terjadi? Virus SARS-COV 2 memiliki kemampuan unik, dapat mengelabui sistem imun kita. Sub-unit protein S yang ada di permukaan virus memiliki plastisitas agar tidak dikenali dan mampu bermodifikasi sebelum dan sesudah menyatu dengan sel yang terinfeksi. Akan tetapi kemajuan teknologi dapat memfasilitasi para ahli untuk memodifikasi struktur virus dan membuat desain antigen yang terbaik untuk digunakan sebagai vaksin, sehingga vaksin tersebut dapat memicu reaksi imun yang menghasilkan antibodi spesifik dan titernya tinggi.

Oleh karena itu, vaksinasi merupakan salah satu solusi yang efisien, aman, juga cost-effective untuk mencapai herd immunity. Tetapi untuk mencapai herd immunity memerlukan waktu yang tidak singkat. Keterbatasan stok vaksin menyebabkan proses vaksinasi dilakukan bertahap. Jumlah penduduk Indonesia sangat besar, sehingga membutuhkan logisitik yang besar, ditambah lagi kondisi geografis dapat menjadi tantangan pendistribusian vaksin, sehingga protokol kesehatan menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan tetap harus dilaksanakan secara ketat.

Referensi

  1. Kumar S., Nyodu R., Maurya V.K., Saxena S.K. (2020) Morphology, Genome Organization, Replication, and Pathogenesis of Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). In: Saxena S. (eds) Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Medical Virology: From Pathogenesis to Disease Control. Springer, Singapore. https://doi.org/10.1007/978-981-15-4814-7_3
  2. Ophinni Y, Hasibuan A, Widhani A, Maria S, Koesnoe S, et al. COVID-19 Vaccines: Current Status and Implication for Use in Indonesia. http://www.actamedindones.org/index.php/ijim/article/view/1648/pdf
  3. https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/how-do-vaccines-work
Disclaimer : Informasi yang tersedia dalam blog ini adalah dalam rangka untuk menambah wawasan kesehatan, tidak untuk menggantikan nasehat, diagnosis atau pengobatan medis. Silahkan menghubungi fasilitas kesehatan profesional terdekat apabila anda mengalami masalah kesehatan.

About author

Author
dr. Candora